•  
  • KSATRIA KENDALISADA
» Profil Ambalan DKC Banyumas



Anggota Pramuka yang melihat website DKC Banyumas, melihat buku profil DKC Banyumas, atau masuk ruang DKC Banyumas mungkin bertanya-tanya mengapa selalu ada gambar Wayang dengan wujud kera putih alias gambar Raden Anoman. Jawabanya adalah karena Gambar Raden Anoman adalah simbol atau lambang dari Ambalan DKC Banyumas. Lambang atau simbol Ambalan bisa berupa tokoh pahlawan, wayang atau nama senjata sakti. Simbol atau lambang Ambalan adalah sebuah simbol yang digunakan sebagai perwujuan cita-cita yang tinggi serta teladan untuk anggota Pramuka yang ada di ambalan tersebut.


Demikian pula DKC Banyumas mengambil Raden Anoman sebagai perwujudan cita-cita dan teladan bagi Anggota DKC Banyumas pada Khususnya dan Pramuka T/D Banyumas pada umumnya. Nama Ambalan DKC Banyumas adalah KSATRIA KENDALISADA, yang berarti Ksatria dari Kendalisada yang merujuk kepada Raden Anoman. Kendalisada sendiri adalah tempat pertapaan Raden Anoman sekaligus tempat dimana Raden Anoman mengurung arwah Rahwana yang sempat lolos dari bawah gunung tempat dimana jasad Rahwana berada.  Raden Anoman dalam pewayangan adalah putra dari Dewi Anjani dengan Batara Guru (Manikmaya) yang diangkat anak dan murid oleh Batara Bayu, dewa penguasa angin. Memiliki nama Lain Anjaniputra, yang berari putra Dewi Anjani, Maruti/Bayusuta yang berarti Putra Bayu, Senggono, Mayangkara, Kapiwara, Prabancana dan Ramandayapati. Memiliki saudara muda (Manunggaling Bayu) yang merupakan  salah satu Pandawa, yaitu Werkudara dan merupakan Mahluk Lintas Jaman. Raden Anoman berwujud manusia kera dengan bulu putih, meski berwujud demikian, tapi Raden Anoman adalah manusia sakti, setia, bertanggungjawab dan tanpa ragu-ragu membela kebenaran. Semua sifat baiknya tertuang dalam pakaian dan aksesoris  yang dikenakan Raden Anoman pemberian dari Batara Bayu.

Raden Anoman memakai model rambut bergelung bernama Gelung Minangkara Cinandi Rengga, yang secara fisik gelung tersebut berupa gelungan rambut dengan posisi depan lebih rendah ketimbang yang belakang (endep ngarep duwur mburi). Filosofinya adalah Raden Anoman merupakan Ksatria yang tidak senang pamer dan sombong mengenai kepandaian yang dipahami serta dapat menunjukkan dirinya sebagai makhluk Tuhan, dan juga Tuhan sebagai penguasa yang harus disembah. Raden Anoma juga memakai perhiasan bernama Pupuk Mas Rineka Jaroting Asem, yang memiliki arti perhiasan di dahi terbuat dari emas bermotifi akar pohon asem yang rumit (Ing=Tamarin.red). Ini memiliki makna Bahwa Raden Anoman berpikiran maju. Raden Anoman juga menggunakan Anting-anting Panunggul Maniking Toya atau Maniking Warih, merupakan ating-anting berwarna biru seperti air di lautan yang luas yang bermakna bahwa Raden Anoman memiliki pandangan yang luas dan berwawasan luas. Aksesoris selanjutnya yang dipakai Raden Anoman adalah Sumping Pudhak Sinumpet atau sering disebut pula Sumping Kembang Pudhak Sinumpet. Adalah perhiasan di telinga bermotif bunga yang letaknya tersembunyi, ini melambangkan Raden Anoman memiliki pengetahuan agama yang dalam, tetapi tidak menyombongkan diri.

Raden Anoman juga menggunakan Kelat Bau Rineka Balibar Manggis Binelah Tekan Kendagane. Kelat Bau adalah perhiasan yang terletak di bahu atau gelang bahu. Kelat Bau yang dimiliki Anoman berbentuk buah manggis yang terbelah sampai dengan bijinya, ini memiliki makna bahwa Raden Anoman selalu memegang teguh janjinya sampai ke dalam hati seperti buah manggis yang dibelah sampai dengan bijinya. Selain gelang bahu, Raden Anoman juga memakai gelang di lengan bernama Gelang Candra Kirana, yaitu gelang dengan bentuk bulan purnama, memiliki filosofi orang yang memiliki pengetahuan yang benar serta luas yang digunakan untuk diamalkan kepada sesama. Di ibu jari Raden Anoman terdapat kuku panjang berwarna merah Bernama Kuku Pancanaka, merupakan kuku yang terkenal sangat tajam dan hanya dimiliki oleh keturunan atau murid Batara Bayu, kuku ini digunakan untuk perlindungan, selain itu bermakna mampu menyimpan berbagai macam pengetahuan.

Raden Anoman memakai kain penutup bernama Kampuh Poleng Bang Bintulu Aji, yang juga sebagai ciri khas keturunan atau murid Batara Bayu. Merupakan kain yang bermotif kotak-kotak dengan 4 warna yaitu hitam, putih, kuning dan merah yang melambangkan 4 nafsu manusia yaitu Lawwamah/ Aluamah/ Serakah (Hitam), Sufiah/ Supiyah/ Keindahan (Kuning), Ammarah/  amarah (Merah), dan Mutmainah/ Keutamaan (Putih) yang harus dikendalikan oleh manusia. Bermakna bahwa Raden Anoman mampu mengendalikan keempat nafsu tersebut. Dengan mengambil Raden Anoman sebagai simbol ambalan, DKC Banyumas ingin mengambili sifat-sifat baik yang terdapat dalam diri Raden Anoman yang tercermin dari pakaian yang dikenakan sebagai teladan dan cita-cita yang tinggi, baik dalam kehidupan berorganisasi maupun di masyarakat.

Sedangkan Call Sign untuk DKC Banyumas adalah Satria, merujuk pada kata Ksatria dan Satria sebagai moto Kabupaten Banyumas. Selain itu Ksatria atau Satria juga merupakan salah satu  sifat terpuji. Dimana seorang satria adalah seorang yang berani membela kebenaran, redah hati, suka menolong dan mau mengakui kesalahan diri sendiri.